Di Gampong Lampanah Teunong, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, keterampilan menganyam bili — tumbuhan bemban yang batangnya dibelah menjadi bilah halus — sudah diwariskan turun-temurun sejak lama. Kelompoknya berdiri sejak 1983 dengan nama Tunas Karya, jauh sebelum kata "UMKM" populer.
Namun keterampilan saja tak otomatis berbuah pasar. Selama bertahun-tahun, hasil anyaman hanya berputar di lingkar pesanan tetangga dan pasar lokal. Pertanyaannya sederhana tapi berat: bagaimana warisan ini bisa bertahan — dan tumbuh?
Warisan yang nyaris terlupakan
Bili berasal dari bahasa Aceh untuk tumbuhan bemban (Donax canniformis). Batangnya diambil dari pegunungan sekitar desa, dibelah, dikeringkan, lalu dianyam menjadi tutup saji, tas, dompet, hingga vas bunga. Cantik, tahan lama, dan sepenuhnya alami.
Masalahnya bukan pada kualitas anyaman, melainkan pada hal-hal di sekelilingnya: tidak ada identitas merek yang konsisten, ragam produk terbatas, dan jangkauan pasar yang sempit. Tanpa pembenahan, regenerasi perajin pun terancam.
"Yang kami jaga bukan sekadar produk, tapi keterampilan satu kampung agar tidak hilang."
Titik balik: membenahi merek
Pada 2016, kelompok ini re-branding menjadi Bili Droe — "bili kita". Di sinilah pendampingan KIAT masuk, dimulai dari hal yang sering diabaikan UMKM: identitas. Bersama tim, kelompok membenahi nama, logo, dan cara bercerita tentang produknya.
Pendampingan berjalan bertahap, bukan sekali datang lalu pergi:
- Asesmen & branding — memetakan potensi kelompok dan menguatkan identitas Bili Droe.
- Pelatihan produk — meningkatkan kualitas anyaman, diversifikasi, dan finishing.
- Pemasaran digital — praktik foto produk dan pengelolaan media sosial.
- Akses pasar — fasilitasi pameran dan jejaring mitra.
Dari kualitas ke pasar
Setelah merek dan kualitas dibenahi, simpul berikutnya adalah pasar. Foto produk yang rapi membuat anyaman Bili Droe layak tampil di etalase digital, sementara partisipasi pameran membuka percakapan dengan pembeli dan mitra baru.
Hasilnya bukan keajaiban semalam, melainkan akumulasi langkah kecil: produk yang lebih beragam, kemasan yang lebih matang, dan kepercayaan diri kelompok untuk menyasar pasar yang lebih luas — bahkan bermimpi menembus pasar nasional dan mancanegara.
Yang bisa dipelajari UMKM lain
Perjalanan Bili Droe menggarisbawahi satu hal: keterampilan adalah modal, tetapi merek, kualitas, dan akses pasar adalah jembatannya. Banyak UMKM kuat di produksi namun tersendat justru di tiga hal itu.
Kabar baiknya, semuanya bisa dipelajari dan didampingi. Jika usahamu sedang di titik yang sama, program Pendampingan UMKM dirancang persis untuk itu — atau telusuri kisah UMKM dampingan lainnya.